Perwimas, Berbagi Seribu Bunga

img-20161222-wa0033

Hari ini di tahun 1928,  di bawah Dekret Presiden No. 316 thn. 1953, tepatnya di hari ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia, Presiden Pertama Indonesia, Ir Soekarno telah meresmikan Hari Ibu.

Puji Syukur tak henti kami panjatkan. Hari ini pula, di tahun 2016, Perwimas (Persatuan Mahasiswi Banyumas), organisasi Perempuan yang berusia kurang dari sebulan tersebut telah sukses mengukir tinta sejarah, menyelenggarakan Aksi Berbagi Seribu Bunga di area Perempatan Palma, Salah satu pusat keramaian di Kota Purwokerto (22/12). Agenda ini diselenggarakan dari Pukul 09.30 hingga 12.00 (Menjelang adzan dzuhur).

“Sehari sebelumnya (21/12) telah diadakan diskusi Publik terkait Perempuan yang diikuti oleh IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sayangnya, satu komponen Perwimas yaitu PMII tidak dapat mengikuti aksi hari ini karena ada acara internal.”Ungkap Yumna selaku Korlap Aksi.

Agenda Aksi dibuka di sebuah sudut Alun-alun Purwokerto. Kemudian masssa berboncengan dengan motor  menuju Perempatan Palma. Panggung orasi utama berada di  Jalan Jenderal Soedirman. Masing-masing perwakilan Organisasi Gerakan Ekstrakampus (IMM-HMI-PMII) menunjukkan orasinya sebagai bentuk edukasi kepada pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Massa aksi tersegmentasi di beberapa titik yaitu pasukan berbagi seribu bunga yang tersebar rapi bawah masing-masing lampu merah Jalan Jenderal Soedirman dan Jalan Kolonel Sugiri. Pasukan poster bertuliskan Selamat Hari Ibu berdiri membentuk setengah lingkaran di Persimpangan Jalan Jenderal Soedirman dan Jalan Kolonel Sugiri sebelah timur PT BRI Syariah. Tim hore menyanyikan berbagai lagu bertemakan Ibu, bersorak-sorai di bawah Lampu Merah Jalan Kolonel Sugiri.

Aksi ini merupakan sarana ta’aruf (perkenalan) dan pembelajaran bagi seluruh komponen perwimas sekaligus edukasi adanya Hari Ibu dan  arti penting seorang Ibu kepada para ibu, calon ibu, dan semua orang yang mencintai Ibu. Selain sarana edukasi, tujuan aksi berbagi seribu bunga ini adalah mengenalkan adanya Perwimas pada masyarakat Banyumas melalui Press rilis yang juga kami bagikan.

Kasih Ibu …

Kepada Beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi…

Tak harap kembali

Bagai Sang Surya menyinari dunia

Sejuknya lagu kasih Ibu seolah melelehkan teriknya matahari siang di Purwokerto. Agenda aksi berbagi 1000 bunga tidak menyebabkan kemacetan dan menganggu lalu lintas. Para pengendara dan masyarakat sekitar memberi apresiasi, mencermati orasi, serta pembacaan puisi dari masing-masing elemen gerakan, bahkan mengikuti alunan nada yang disenandungkan para tim hore. Massa membubarkan diri dengan aman dan tertib tanpa kericuhan.

Semoga aksi ini menjadi awal yang baik bagi gerakan Perwimas ke depannya.

Mari Bergerak, Berharmoni dalam Karya!

Makna dan Filosofi Logo Perwimas

perwimas-tr

Logo Perwimas berbentuk seperti tetesan air, bukan berbentuk lingkaran, maupun kotak. Hal ini menganalogikan bahwa Ibarat Indonesia adalah hujan. Perwimas menjadi setetes air. Meskipun hanya setetes air, namun setetes itu tetap perlu diakui keberadaannya. Hanya tetesan air terus menerus yang dapat melubangi kerasnya batu. Perwimas (Persatuan Mahasiswi Banyumas) adalah sebuah komunitas sederhana yang berada di Banyumas.  Meski apa yang kami lakukan di Perwimas itu hanya hal-hal kecil yang sederhana, kami berharap Perwimas terus istiqomah berjuang secara perlahan-lahan hingga mampu memecahkan berbagai problematika seputar Pemberdayaan Perempuan dan advokasi di Banyumas. 

Perempuan Berdoa. Doa Ibarat benang yang menghubungkan manusia bumi dengan Tuhannya yang bertahnta di Arsy, bahkan doa Ibu dipercaya sangat mustajab hingga menembus langit ke tujuh. Perwimas merupakan organisasi yang berasaskan Ketuhanan Yang Mahaesa, di mana setiap nafas geraknya selalu dihiasi dengan paradigma profetik yang menurut Kuntowijoyo terdiri dari tiga konsep dasar, yaitu humanisasi, liberasi, dan transedensi. Humanisasi (dianalogikan sebagai Ibu Jari) merupakan simbol upaya perwimas untuk mengembalikan fitrah manusia sebagai penegak kebajikan. Liberasi (dianalogikan sebagai jari telunjuk) menegaskan bahwa Perwimas merupakan gerakan pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, dan ataupun penindasan terhadap perempuan. Transedensi (dianalogikan sebagai telapak tangan) mendeskripsikan bahwa  Perwimas berupaya menyelaraskan nilai-nilai religius dengan nilai-nilai intelektualisme. Eksistensi transdensi dalam paradigma profetik merupakan basis dari aksi-aksi humanisasi dan liberasi. Kuntowijoyo menambahkan bahwa Transedensi merupakan nilai dasar yang dapat memperbaiki krisis modernisme dan disintegrasi dalam berbagai bidang sebagaimana telapak tangan mengaitkan Ibu jari dan Jari telunjuk kemudian menghubungkan satu jari dengan jari yang lain dengan susunan morfologi yang profesional.

Bunga Mawar merupakan lambang keindahan, setiap orang pasti mengenal dan menyukai bunga Mawar, kami berharap Perwimas dapat dikenal dan disukai oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya masyarakat Banyumas. Bunga Mawar tersusun indah dari banyak kelopak yang beraroma harum.Kelopak berbagai bentuk ini Ibarat beragam elemen yang menyusun tegak dan berdirinya Perwimas. Hingga saat ini Perwimas baru terdiri dari 4 Elemen Gerakan Mahasiswa (EGM) yang masing-masing memiliki beragam corak. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya nanti Perwimas akan memfasilitasi EGM yang lain bahkan seluruh Mahasiswi umum untuk ikut bergerak dan berharmoni dalam karya nyata. Tangkai Perwimas berbentuk melengkung, namun kokoh. Hal ini menunjukkan sikap dan kebijakan Perwimas yang fleksibel, adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap kokoh dan konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan. Perwimas menghimpun sekumpulan Makhluk Intelektual bernama Mahasiswa yang berasal dari berbagai Almamater dan Perguruan Tinggi se-Kabupaten Banyumas.  Oleh karena itu, tiga nodus pada tangkai bunga Mawar menunjukkan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu :

1. Pendidikan

Mahasiswa sebagai kaum intelektual bangsa yang menduduki  5 persen dari populasi warga negara Indonesia berkewajiban meningkatkan mutu diri secara khusus agar mutu bangsa pun meningkat pada umumnya dengan ilmu yang mereka pelajari selama pendidikan di kampus sesuai bidang keilmuan tertentu. Mahasiswa dan pendidikan merupakan 1 kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sehingga ketika mahasiswa melakukan segala kegiatan dalam hidupnya, semua harus didasari pertimbangan rasional, bukan dengan adu otot. Itulah yang disebut kedewasaan mahasiswa.

  1. Penelitian dan Pengembangan

Ilmu yang mereka kuasai melalaui proses pendidikan di perguruan tinggi harus diimplementasikan dan diterapkan. Salah satunya dengan langkah ilmiah, seperti melalui penelitian. Penelitian mahasiswa bukan hanya akan mengembangkan diri mahasiswa itu sendiri, namun juga memberikan manfaat bagi kemajuan pperadaban dan kepentingan bangsa kita dalam menyejahterakan bangsa. Selain pengembangan diri secara ilmiah dan akademis. Mahasiswa pun harus senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya dalam hal softskill dan kedewasaan diri dalam menyelesaikan segala masalah yang ada. Mahasiswa harus mengembangkan pola pikir yang kritis terhadap segala fenomena yang ada dan mengkajinya secara keilmuan.

  1. Pengabdian pada Masyarakat

Mahasiswa menempati lapisan kedua dalam relasi kemasyarakatan, yaitu berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Mahasiswa adalah yang paling dekat dengan rakyat dan memahami secara jelas kondisi masyarakat tersebut. Kewajiban sebagai mahasiswa menjadi front linedalam masyarakat dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah terhadap rakyat karena sebagaian besar keputusan pemerintah di masa ini sudah terkontaminasi oleh berbagai kepentingan politik tertentu dan kita sebagai mahasiswa yang memiliki mata yang masih bening tanpa ternodai kepentingan-kepentingan serupa mampu melihat secara jernih, melihat yang terdalam dari yang terdalam terhadap intrik politik yang tidak jarang mengeksploitasi kepentingan rakyat. Disini mahasiswa berperan untuk membela kepentingan masyarakat, tentu tidak dengan jalan kekerasan dan aksi chaotic, namun menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, kaji terlebih dahulu, pahami, dan sosialisasikan pada rakyat, mahasiswa memiliki ilmu tentang permasalahan yang ada, mahasiswa juga yang dapat membuka mata rakyat sebagai salah satu bentuk pengabdia terhadap rakyat

Akantetapi di sisi lain, Bunga Mawar tidak dapat disentuh oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan berilmu karena memiliki pelindung bernama duri. Terdapat empat buah duri dalam logo Perwimas yang menganalogikan 4 paradigma berpikir anggota Perwimas, yaitu :

  1. Spiritualisme : Perwimas menjunjung tinggi nilai-nilai religius sebagai wawasan fundamental nasionalisme.
  2. Intelektual : Perwimas mengedaepankan analisis ilmiah yang rasional dan empirik.
  3. Independensi : seluruh kebijakan yang dikeluarkan Perwimas tidak terkait dengan intervensi golongan atau pihak manapun.
  4. Sosial-Politik : Perwimas merupakan gerakan sosial yang berbasis kemasyarakatan dan kerakyatan serta gerakan politik yang aktif mengkritisi dan mengawal kebijakan Pemerintah Daerah Banyumas terkait Pemberdayaan Perempuan dan Advokasi secara ekstraparlementer.

Latar Warna Merah menandakan keberanian  Perwimas dalam bergerak dan berharmoni dalam karya melawan segala bentuk intimidasi terhadap perempuan.

Corak Emas merupakan simbol eksistensi Perwimas di sebuah kota yang gemilang, Banyumas. Perwimas adalah organisasi endemik yang hanya ada di Kabupaten Banyumas.

Daun. Dalam ilmu fisiologi tumbuhan, daun merupakan tempat untuk menyusun energi agar dapat bertahan hidup. Satu helai daun yang terbagi menjadi dua melambangkan cara perwimas menjaga eksistensinya dari generasi ke generasi. Helai daun pertama menganalogikan karakter Perwimas sebagai Actualization Zone,  tempat untuk beraktualisasi bagi para anggotanya, berkontribusi seluas mungkin di dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Helai kedua menganalogikan karakter Perwimas sebagai Self Empowerment Zone, selain ladang untuk beraktualisasi, Perwimas juga berupaya memfasilitasi seluruh anggotanya untuk mengembangkan potensinya.

Garis putih setengah Lingkaran menunjukkan ketulusan Perwimas dalam memperjuangkan hak-hak kaum Perempuan.

Demikian makna dan Filosofi logo Perwimas. Semoga bermanfaat. 🙂

 

Tentang Perwimas

Sejarah Singkat

Tidak setiap derita

Jadi luka

Tidak setiap sepi

Jadi duri

Tidak setiap tanda

Jadi makna

Tidak setiap tanya

Jadi ragu

Tidak setiap jawab

Jadi sebab

Tidak setiap seru

(Sutardji Cazoum Bachri – Jadi)

 

Begitupun tidak setiap perbedaan, jadi perpecahan dan kehancuran. Adakalanya, perbedaan justru berharmoni dalam karya. Kami, aliansi yang terdiri dari KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Daerah Purwokerto, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Purwokerto, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Cabang Banyumsa, dan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cabang Banyumas membentuk sebuah wadah perjuangan bernama Perwimas. Perwimas merupakan akronim dari Persatuan Mahasiswi Banyumas.

Perwimas lahir  dan tercetus pada tanggal 6 Desember 2016 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Tanjung, Purwokerto. Aliansi ini dideklarasikan dalam berita acara pada tanggal 7 Desember oleh masing-masing representatif dari komponen starternya, Meliana Moga Yufita (KAMMI), Raras Maftukhah (PMII), Eka Suci Widyati (HMI), dan Fathonatul Munawaroh (IMM).

Latar Belakang

Permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, berbagai tindak kekerasan telah dialami oleh perempuan dan anak di Kabupaten Banyumas, yaitu: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berupa kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran; kekerasan lain yang juga dialami oleh perempuan berupa perkosaan, trafiking, dan kekersan dalam pacaran. Kekerasan juga dialami oleh anak-anak yang berupa kekerasan fisik, seksual, psikis dan juga penelantaran. Sebagian besar perempuan di Banyumas sendiri tidak dapat berbuat banyak karena mayoritas juga masih memiliki tingkat pendidikan dan daya literasi yang rendah. Tingginya angka putus sekolah di Banyumas menambah keresahan yang semakin menjadi. Sementara belum banyak organisasi Mahasiswi yang concern dan melibatkan diri untuk menyelesaikan berbagai permasalahan terkait perempuan di Banyumas.

Berawal dari berbagai keresahan yang dewasa ini terus melanda sebagian perempuan Banyumas inilah, kami menggagas berdirinya Persatuan Mahasiswi Banyumas (Perwimas) untuk mengawal kebijakan Pemerintah Daerah Banyumas, terutama di ranah Pemberdayaan Perempuan dan Advokasi. Lingkup gerak kami adalah tingkat regional dengan penanganan berbagai aspek vital pemberdayaan perempuan dan advokasi  meliputi; ekonomi, politik, sosial-budaya, hukum dan HAM, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perwimas mengkaji berbagai masalah dalam bidang-bidang tersebut, merumuskan penyelesaian dari masalah yang telah dikaji, hingga menyelenggarakan berbagai berupaya untuk mewujudkan penyelesaian yang telah dirumuskan. Perwimas merupakan lembaga sosial sekaligus lembaga politik.

Perwimas akan langsung turun ke Masyarakat demi menganalisis permasalahan perempuan, merumuskan penyelesaiannya serta mewujudkan penyelesaian masalah yang telah dirumuskan dalam aksi nyata. Selain itu, Perwimas juga akan membantu Pemerintah Daerah Banyumas untuk memberikan pertimbangan terkait pengambilan kebijakan dalam rangka menangani berbagai masalah Pemberdayaan Perempuan dan mengadvokasi berbagai kasus hukum dan HAM yang berkaitan dengan Perempuan di Banyumas.

Visi

Mewujudkan perempuan yang cerdas secara spiritual, intelektual, sosial, dan politik.

Misi

  1. Melakukan upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kecerdasan perempuan se-Banyumas
  2. Melakukan advokasi dan perlindungan hukum terkait kasus hukum, terutama kekerasan terhadap perempuan
  3. Melakukan pencerdasan hukum, sosial, dan politik terhadap perempuan se-Banyumas
  4. Menghidupkan budaya literasi, diskusi, dan edukasi di kalangan perempuan Banyumas.

    Semoga ikhtiar Perwimas ini dapat mewujudkan cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaaan Undang – Undang Dasar 1945, “Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.